Apakah Njenengan Menyukai Silat?
Teman-teman Atlet Silat sekalian yang saya hormati,
Tentunya Njenengan pernah menonton film-film
beladiri, terutama Jet Lee, Bruce Lee, lalu UFC, dan sebagainya. Kira-kira,
apakah mungkin bila seorang mahasiswa hanya dengan mengulang-ulang filmnya Jet
Lee berjudul Tai Chi Master itu sebanyak 100 kali kemudian beliau akan menjadi seorang ahli
Tai Chi dan kemampuannya mendekati Jet Lee?
Iya, mungkin. Tapi bukan di dunia yang sekarang
sedang saya dan Njenengan huni ini.
Atau mungkinkah dengan memainkan game duel, Tekken,
dan memenangkannya hingga tak terkalahkan di seantero desa, maka beliau akan
menjadi juara dalam pertandingan?
Iya, mungkin. Beliau mungkin akan menjadi juara
dalam pertandingan game Tekken, tapi bukan dalam pertandingan silat.
Silat adalah ilmu tata gerak, membutuhkan praktik,
sebagaimana ilmu-ilmu lain, bukan semata dibayangkan. Kimia, bahasa Inggris, Matematika, bahasa
Indonesia, semuanya membutuhkan praktik. Dan sebagaimana
ilmu-ilmu tersebut, silat juga membutuhkan proses, tahap demi tahap untuk
mencapai kemampuan yang diharapkan.
Sebagaimana bayi yang baru lahir, hanya memiliki
dua kata; menangis dan tertawa. Kemudian dia belajar mengenali orang tuanya,
lalu orang-orang di sekelilingnya, belajar minum dan menelan, belajar
berbicara, belajar merayap, lalu merangkak, berjalan, berlari, melompat, hingga
akhirnya menulis, membaca, beragama. Semua itu tidak terjadi dalam semalam.
Begitu pula belajar silat, memerlukan proses yang tidak bisa instan untuk
mendapatkan hasil yang diharapkan.
Kalau Njenengan telah memutuskan untuk belajar
silat, berarti telah siap dengan konsekuensinya, yaitu berlatih. Semakin baik
Njenengan berlatih, semakin baik hasil yang Njenengan akan peroleh. Tuhan itu
Maha Adil, Dia tidak akan membebankan sesuatu melebihi kekuatan hambaNya, dan
juga memberi sesuai apa yang sang hamba usahakan. Jika Njenengan serius
berlatih, maka Dia juga akan serius Memberi, bahkan sering menganugrahkan lebih
baik dari yang kita usahakan.
Saya pernah mendengar seseorang menyatakan menyukai
silat. Lalu saya tanyakan kepada beliau tentang berapa kali beliau berlatih
selama satu bulan. Beliau menjawab hanya dua kali karena kesibukan beliau yang
tidak bisa ditinggalkan. Saya jadi berpikir analog dengan seorang kekasih. Jika
saya menyukai seorang cantik, berapa kalikah saya akan menemui beliau dalam
satu bulan? Saya akan berpikir untuk merubah periode waktunya menjadi jam,
bukan bulan. Untuk seseorang yang kita sukai, tentunya sebisa mungkin beliau
selalu di dekat kita atau selalu dalam jangkauan kita, beruntunglah jaman
sekarang ada telepon seluler dengan fitur panggilan vidio sehingga kita seolah
bercakap langsung dengan beliau yang kita hubungi, face to face.
Orang yang menyatakan cinta tetapi menghubungi
hanya dua kali dalam sebulan, kaum Hawa tentunya lebih paham bagaimana menilai orang
tersebut, apakah benar mencintai atau hanya hendak menyakiti (baca:mempermainkan).
Maka,
jika Njenengan mengatakan ingin belajar silat, suka silat, memilih
silat,
berlatihlah. Jika Njenengan hendak mengharumkan nama bangsa ini dengan
menjadi seorang atlet silat, maka berlatihlah layaknya seorang atlet
silat. Jika seorang pelatih atau seorang ahli yang Njenengan tuju, maka
berlatihlah sebagaimana layaknya seorang ahli.
Semangat!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar